logo esacapala

Blogroll


Di Ketinggian Gunung Burangrang

Bukan Ketinggian, Tapi Keindahan

Sunrise dan Edelweis Hargo Dumilah

Mentari Terbit Dengan Keindahan Bunga Abadi

Bunga Abadi Gunung Lawu

Masihkah Anda Memetik Ini!! STOP!!

orientasi medan (ormed) R.XIV

Esacapala Rimba XIV Ketika Melakukan Orientasi Medan Di Kawah Ratu Cidahu

Foto Keluarga pendakian bersama

Foto Saat Pendakian Bersama Di Gunung Cikuray

Maka, nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan?"

Kami bertakbir, jika menaiki tempat yang tinggi dan bertasbih manakala kami menuruni lembah.” -HR Al Bukhari-

tak akan berhenti kami membentangkan panji esacapala

Ini Panji Kami!! Panji Esacapala

Bromo Tengger Semeru National Park

Mt semeru (3,676m) is the tallest peak in java. indonesia. Her routine act in spewing gases, ashes and volcanic rocks add the whole scenery into a magical morning vista. (pics by chillntravel on FLICKR)

Temoe Nasional Pedoeli Alam 2007 (Picture taken by Rei)

Gambar diambil saat acara Lomba Kebut Gunung dalam Temoe Nasional Pedoeli Alam yang diadakan oleh Vanaprasta (Bpk. Adhyaksa Dault) untuk memperingati Hari kemerdekaan - 17 Agustus 2007.

Sunset di Gunung Sumbing

Pendakian Tahunan divisi Mountainering tahun 2008. Gambar diambil dari gunung Sumbing (3163 mdpl), gambar di foto adalah gunung Sindoro (3153 mdpl).

Senin, 13 Januari 2014

Survival


Survival adalah suatu tindakan yang paling awal yang dilakukan oleh setiap makhluk yang hidup untuk mempertahankan hidupnya dari berbagai ancaman, survival adalah perjuangan/usaha untuk mempertahankan hidup.

Ada beberapa permasalahan yang akan kita hadapi, yaitu masalah / bahaya yang ada di alam (bahaya obyektif), masalah yang menyangkut diri kita sendiri (bahaya subyektif). Ada beberapa aspek yang akan muncul dalam menghadapi survival:

Psikologis                    : panik, takut, cemas, kesepian, bingung, tertekan, dll.
Fisiologis                     : sakit, lapar, haus, luka, lelah, dll.
Lingkungan                  : panas, dingin, kering, hujan, angin, vegetasi, fauna, dll.

Ada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam melakukan survival, selain faktor keberuntungan (nasib baik/pertolongan Tuhan tentunya), yaitu:
  1. Semangat untuk mempertahankan hidup.
  2. Kesiapan diri.
  3. Alat pendukung.
Hal-hal penting dalam survival:
  • Sikap mental; semangat untuk tetap hidup, kepercayaan diri, akal sehat, disiplin, kemampuan belajar dari pengalaman.
  • Pengetahuan; cara membuat bivak, cara mendapatkan air dan makanan, cara membuat api, cara mengatasi gangguan binatang.
  • Pengalaman dan latihan; pengidentifikasi tanaman.
  • Peralatan; kotak survival, dan pisau.
Teknik survival:
  • Perlindungan dari faktor luar; binatang buas, cuaca buruk, hujan dan angin, dingin.
  • Cara perlindungan diri; membuat bivak, tempat untuk berlindung dari factor alam. Ada dua jenis bivak, bivak alam dan bivak buatan.
Survival kit
Survival kit merupakan peralatan survival yang praktis dan mudah dibawa, diantaranya adalah :
- Korek api                                             - Cermin
- Lup                                                      - Obat pribadi
- Batu api                                               - Senter dan baterai
- Jarum, benang, peniti                            - Kompas
- Kait dan senar 60-90 cm

Tindakan dalam menghadapi survival Ingat semboyan ‘STOP’ :
S          = Stop (berhenti).
T         = Thinking (mulailah berpikir, dengan ketenangan berpikir akan mudah bertindak).
O         = Observe (amati keadaan disekitar kita, apa yang bisa kita kerjakan).
P          = Planning (buat perencanaan mengenai tindakan yang akan kita lakukan.

Kunci-Kunci Survival
S          = Sadar dalam keadaan darurat.
U         = Usaha untuk tetap tenang dan tabah.
R         = Rasa takut dan putus asa hilangkan.
V         = Vitalitas tingkatkan.
I           = Ingin tetap hidup dan selamat itu tujuan.
V         = Variasi alam bias dimanfaatkan.
A         = Asal mengerti, berlatih, tahu caranya.
L         = Lancar dan selamat

Apabila tersesat, hal-hal yang dapat dilakukan untuk menanggulangi keadaan tersebut:
  1. Membuat tempat berlindung (shelter)
  2. Tetap tenang, jangn panik, berfikir jernih dan mencoba ingat jalur perjalanan.
  3. Gunakan alat navigasi (kompas dan peta)
  4. Membuat petunjuk untuk memerintah orang lain mencari keberadaan kita.
  5. Tetap bersama kelompok dalam kondisi apapun.

A. Api

Api tidak hanya berfungsi untuk memasak bahan makanan saja, tetapi juga berfungsi untuk menjaga suhu tubuh kita. Selain itu dengan perapian kita dapat terhindar dari berbagai binatang. 

Binatang buas yang takut terhadap api antara lain : serigala, harimau, dan sebagainya. Untuk menghangatkan tubuh, panas api akan lebih efektif menghangatkan tubuh jika kita membuat beberapa api kecil daripada membuat satu api besar.

Perapian yang baik haruslah diatur sedemikian rupa sehingga kayu dapat terbakar secara merata. Dengan penyusunan perapian yang baik dapat memberikan berbagai fungsi. Selain untuk menghangatkan tubuh, memasak, juga dapat dijadikan alat penghalau binatang. Untuk mendapatkan perapian yang baik, diperlukan kayu/bahan yang kering dan mudah terbakar. Perapian yang baik biasanya dimulai dari ranting-ranting kecil untuk dijadikan fire starter. Untuk selanjutnya dapat dilanjutkan dengan kayu-kayu yang lebih besar.


Untuk mendapatkan api selain menggunakan alat khusus (korek api/pematik), juga dapat dilakukan dengan cara tradisional. Seperti menggesek-gesekan bahan kering dengan bahan kering lainnya. Letak keberhasilan pembuatan api tradisional yaitu dalam bentuk batang dan jenis bahan/kayu serta cara yang dilakukannya.

Teknik Membuat Api
Dalam keadaan survival, kita memerlukan api, karena:
  • Untuk menghangatkan badan
  • Untuk memasak makanan dan minuman
  • Untuk penerangan dan melindungi diri dari binatang buas
  • Untuk memberikan tandem/ kode keamanan

Elemen untuk membuat api:
  • Bahan yang mudah terbakar
  • Udara
  • Sumber panas atau api (korek api/ gas)
1.      Mematik
Cara ini dilakukan dengan membenturkan atau menggesekan dua benda keras. Dapat dilakukan dengan dua benda yang sejenis ataupun dengan dua benda yang berbeda jenis. Cara yang dapat digunakan bermacam-macam, yang penting adalah dapat menimbulkan bunga api.

Salah satu caranya adalah dengan memaku kayu bidang datar hingga yang tampak bagian kepalanya saja. Kemudian gesekan/benturkan batu atau logam ke arah kepala paku tersebut. Gesekan dengan sedikit ditekan dan agak cepat hingga menimbulkan bunga api. Kemudian bunga api tersebut dapat ditangkap dengan sabut kering dan sebagainya.

2. Gergaji Api (Fire Saw)
Cara ini membutuhkan tenaga yang cukup besar dan kuat. Cara ini memanfaatkan efek panas akibat gesekan kayu. Metodanya seperti menggergaji kayu dengan kayu lainnya, sehingga menimbulkan bunga api. Biasanya kayu yang digunakan berbeda antara kayu satu dengan kayu yang lainya. Kayu yang dipilih adalah kayu yang empuk sehingga tidak terlalu sulit dalam melakukan penggergajian.





3. Fire Thong
Fire Thong adalah cara mendapatkan api dari sehelai kulit kayu atau rotan kering yang ditarik menyilang di atas sepotong kayu atau rotan kering. Kulit rotan tersebut dililitkan pada sebatang pohon yang empuk, lalu ditarik oleh tangan kanan dan kiri secara bergantian. Pada bagian bawahnya diberi sabut, kawul, atau dedaunan kering yang siap menangkap bunga api.


B. Shelter

Shelter ditujukan untuk melindungi survivor dari pengaruh alam, seperti panas, hujan, angin, dan dingin. Perlindungan ini dapat dibangun dari bahan-bahan yang sengaja dibawa ataupun dari bahan-bahan yang tersedia di alam (kayu, dedaunan, dll).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan shelter adalah :
  1. Jangan membangun shelter di tempat yang riskan tergenang air (banjir), seperti di tepi sungai. Walaupun tempat itu terlihat bersih dan kering, akan sangat berbahaya apabila datang hujan.
  2. Usahakan dalam pembuatan shelter tidak dibawah pohon yang berdahan rapuh atau di bawah pohon kelapa. Karena dapat membahayakan jika dahan rapuh atau buah kelapa itu jatuh menimpa shelter kita.
  3. Tidak di tempat yang dicurigai sebagai sarang binatang buas atau sarang nyamuk/serangga. Karena dapat mengganggu kenyamanan beristirahat.
  4. Bahan pembuat shelter harus kuat dan pengerjaannyapun sebaik-baiknya, karena akan mempengaruhi dalam kenyamanan kita.
Contoh barang bawaan yang dapat dijadikan shelter adalah ponco ataupun plastik berukuran kurang lebih 2×2 meter. Karena shelter yang dibangun dari ponco atau plastik kurang sempurna, maka dari itu selain memperhatkan empat hal diatas, perlu memperhatikan arah angin bertiup. Sehingga arah angin bertiup dapat dihalau oleh shelter yang kita bangun. Contoh bentuk shelter dapat dilihat melalui gambar.

Bentuk lain dari alam yang bisa dimanfaatkan sebagai shelter yaitu gua, lekukan tebing/batu yang cukup dalam, lubang-lubang dalam tanah, dan sebaginya.

Apabila memilih gua harap diyakini bahwa :
  • Gua tersebut bukan merupakan sarang binatang.
  • Gua tersebut tidak mengeluarkan gas beracun. Cara klasik mengetahuinya yaitu dengan menggunakan obor. Apabila obor dapat terus menyala di dalam gua, berarti gua tersebut aman dari gas beracun.
  • Gua tersebut terbebas dari bahaya longsor.
C. Trap
Salah satu keterampilan yang mendukung dalam melakukan kegiatan survival adalah keahlian membuat trap. Trap merupakan suatu jerat/jebakan ini digunakan survivor untuk menangkap binatang untuk diambil dagingnya untuk dimakan. Membuat trap kadangkala memerlukan bahan lainya, seperti : karet, kawat, tali, dan sebagainya. Maka dari itu barang-barang tersebut tersedia di dalam survival kit.

Dalam pembuatan trap, hendaknya diketahui hewan apa saja yang biasa lewat atau tinggal di daerah itu. Dengan mengetahui hewan apa yang akan ditangkap, kita dapat menyesuaikan jenis trap apa yang akan dibuat. Perlu diingat bahwa trap akan sia-sia jika binatang yang telah terperangkap dapat meloloskan diri. Maka dari itu pembuatan trap biasanya dalam bentuk yang sederhana tetapi mempunyai kekuatan yang baik.

Trap sangat banyak jenis dan macamnya, karena dalam pembuatan trap tergnatung kepada kreasi survivor. Kita akan membahas lima jenis trap yang sering digunakan.

1. Trap Menggantung (Hanging Snare)
Perangkap model menggantung ini biasanya memanfaatkan :
  1. Kelenturan dahan pohon.
  2. Patok yang diberi lekukan dan dihubungkan dengan tali.
  3. Tali laso yang lalu menghubungkan dahan pohon yang lentur dengan patok, sehingga apabila laso goyang maka tali pada patok akan lepas dan dahan pohon akan menarik, hingga akhirnya tali akan menjerat.

Perangkap ini ditujukan untuk menangkap binatang yang cukup besar seperti : kelinci, ayam, bebek, dan lain lain.

2. Trap Tali Sederhana
Untuk binatang yang berukuran kecil, seperti burung dapat digunakan perangkap tali sederhana yang diletakan di atas tanah ataupun digantung. Tali laso yang telah diberi umpan diikatkan pada dahan pohon atau batu yang berat. Sehingga apabila hewan telah terjerat, tidak bisa pergi kemana-mana lagi.

3. Trap Lubang Penjerat
Perangkap ini adalah modifikasi dari perangkap tali dan perangkap lubang. Perangkap ini terdiri dari :
  1. Tali laso yang diikatkan pada dahan pohon yang kuat dan diletakan mendatar.
  2. Lubang perangkap yang digali, kedalamannya disesuaikan dengan hewan yang akan ditangkap. Mulut lubang disamarkan dengan dedaunan dan laso diletakan di atas dedaunan tersebut.
  3. Diberi umpan di atas dedaunan, ditengah laso (tali).

4. Trap Menimpa
Perangkap lain yang ditujukan untuk menangkap binatang kecil lainya adalah perangkap menimpa. Perangkap ini memanfaatkan berat kayu untuk menindih. Model ini dikenal dengan nama Deadfall Snare. Yang diperlukan dalam pembuatan perangkap ini adalah :
  1. Batang pohon besar ditumpukan pada kayu pohon lainya yang saling menopang.
  2. Kayu pohon penopang yang saling berhubungan dengan batang pohon besar dan jika salah satu tersenggol, maka yang lain akan jatuh dan menimpa.
  3. Umpan yang diletakan dekat dengan kayu pohon penopang dan apabila tergerak, maka kayu pohon penopang akan bergeser sehingga batang pohon besar akan jatuh menimpa.

5. Kombinasi Trap Lubang dengan Trap Menimpa

Perangkap ini merupakan kombinasi bentuk lubang perangkap dan perangkap menimpa. Perangkap ini terdiri dari :

  • Batang pohon besar untuk menimpa mangsa.
  • Kayu pohon yang saling menopang.
  • Umpan.
  • Lubang perangkap lengkap dengan samarannya.
Cara kerjanya hampir sama dengan trap menimpa, tetapi ketika mangsa tertimpa batang, ia akan langsung masuk ke lubang.

Zoologi Praktis


Sebagian hewan pada dasarnya dapat dimakan tetapi kesulitannya adalah keputusan untuk mendapatkan hewan tersebut. Untuk itu diperlukan pengetahuan tentang habitat dan tingkah laku hewan tersebut. Seperi hewan selalu mencari air untuk kebutuhan hidupnya maka dalam hal ini kita dihadapkan pada permasalahan, bila di dekat sumber air banyak hewan maka banyak pula hewan berbahaya bagi kita disekitar tempat tersebut.


Binatang Yang Berguna :
  • Hampir semua mamalia dan burung dapat dimakan dagingnya.
  • Ular, kadal, kura-kura dapat dimakan.
  • Lebah bisa diambil madu dan larvanya.
  • Cacing dan siput hutan dapat dimakan.
Binatang Berbahaya Antara lain :
  • Nyamuk di daerah malaria.
  • Lalat dayak/lalat kerbau (besarnya 2 kali lalat biasa). Terdapat di hutan Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya. Bekas gigitannya bengkak dan gatal, bisa infeksi.
  • Tawon/lebah, berbahaya jika disengat. Dalam jumlah besar dapat mematikan.
  • Kelabang (Centipoda, kalajengking). Bekas sengatannya sakit dan bengkak. Untuk mengurangi rasa sakitnya dapat dengan amonia, tembakau, daun sambiloto.
  • Pacet, lintah (lintah air, lintah darat, lintah sawah). Umumnya berbentuk pipih kecil sebesar benang dan setelah beberapa menit menghisap darah manusia dapat membesar sebesar ibu jari, bahkan sebesar lilin. Untuk melepaskannya, siram dengan air tembakau. Hati-hati terhadap luka kita, terkadang menimbulkan pendarahan yang sulit dihentikan. Untuk menghindari pacet atau lintah, dapat dilakukan dengan menyimpan memasukkan tembakau dalam kantung pakaian.
  • Ular berbisa, antara lain : ular hijau/ular pucuk, ular bakau, ular tanah, ular sendok, ular belang. Umumnya jenis ular berbisa dapat diketahui dengan melihat bentuk kepala (segi tiga), leher relatif kecil, terdapat lekukan mata dan lubang hidung, mempunyai gigi bisa.
Di Indonesia, diperkirakan ada 400 jenis ular. Di antaranya 110 jenis termasuk ular berbisa. Ular berbisa tersebut kebanyakan hidup di laut atau sekitar pantai., bersifat pasif dan jarang menggigit. Sedang yang hidup di darat sekitar 35 jenis. Populasi ular ini sangat rendah, sehingga ular tersebut banyak dikategorikan langka/jarang ditemukan, meskipun mempunyai kemampuan berbiak yang cukup besar. Ada yang dapat bertelur atau beranak sampai puluhan ekor, tapi setelah mengalami beberapa tahap, yang dapat bertahan hidup jumlahnya sedikit sekali.

Bisa ular terdiri dari kelenjar bisa dan saluran. Ukurannya tergantung pada besar tubuh ular itu sendiri. Ular bisa menentukan jumlah bisa yang dikeluarkan untuk melumpuhkan lawan atau mangsanya. Suatu hal yang jarang terjadi bila ular sampai mengeluarkan seluruh isi kelenjar bisanya.

Berdasarkan tipe gigit bisa, ular dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu :
  1. Aglypha, tidak mempunyai gigit bisa. Contoh : ular sanca, ular sawah (umumnya dari famili Colubridgae).
  2. Ophistoglypha, mempunyai gigi bisa di belakang. Contoh : ular cincin Mas (Boiga dendrophila), Ular pucuk (Dryophis).
  3. Proteroglypha, mempunyai gigi bisa di depan, yang efektif untuk menyalurkan bisa. Contohnya Elapidae, hydrophiidae.
  4. Solenoglypha, mempunyai gigi bisa di depan, dan dapat dilipat. Umumnya gigi bisa tersebut besar. Contohnya Crotalidae, Viperridae.
  5. Macam Bisa
  6. Neurotoksin, yang menyerang jaringan saraf dan bersifat bertentangan dengan tranmisi rangsangan saraf. Menyebabkan kelumpuhan kepada alat pernapasan dan rusaknya jaringan otak.
  7. Hemotoksin, yang menyerang darah dan sistem peredarannya. Dapat menguraikan protein, menyebabkan sel darah rusak dan menggumpal.
  8. Kardiotoksin, yang menyerang otot jantung. Miksotoksin, yang diserang cairan dalam tubuh.
Obat Yang Biasa Digunakan Untuk Menawarkan Bisa
  • Aspirin untuk menghilangkan rasa sakit.
  • Vitamin B kompleks dan Paracetamol menghilangkan rasa nyeri dan panas.
  • Antivenin Polyvalent merupakan serum anti bisa yang bersifat umum.
  • Antivenin Taipan, serum untuk yang digigir ular Taipan.
  • Anti venin Brown Snake, serum untuk yng digigit ular Mulga.
  • Antivenin Papuan Black Snake, serum untuk yang digigit ular hitm Irian.
Pencegahan
‘ Aturan emas’ agar tidak dipatuk ular adalah, “HINDARILAH ULAR!!”. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diingat:
  1. Ular takut kepada manusia, ketimbang sebaliknya. Berikan kepada ular untuk mundur.
  2. Belajar mengenali ular berbisa di daerah operasi. Usahakan untuk tidak membunuh ular yang tidak berbisa.
  3. Jangan berjalan di malam hari. Banyak ular berbisa yang aktif di malam hari.
  4. Ular biasanya menhindari sinar matahari langsung. Sangat aktif pada temperatur sedang (25-28oC).
  5. Hindari gua-gua, lubang-lubang terbuka, dan daerah ular yang diketahui. Ular tinggal di daerah yang terlindung.
  6. Ular berbisa dapat tinngal di ketinggian, juga dapat memanjat pohon dan pagar (ular pucuk, ular pohon, dan lain-lain)
  7. Berjalanlah di jalan setapak yang ada. Hindari semak belukar. Gunakan pakaian-pakaian yang melindungi bila masuk daerah-daerah bersemak. 

Botanical Praktis


PENDAHULUAN
Mempelajari botani dan zoologi praktis dianggap penting untuk lebih mengenal jenis tumbuhan dan hewan yang dapat dimanfaatkan sebagai makanan darurat (survival food) atau obat-obatan. Selain itu kita dapat mengenal jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan yang harus dijauhi karena beracun, berbisa, atau dapat mengancam keselamatan jiwa. Materi ini menjadi penting, karena alam tropis memiliki karakteristik yang berbeda dengan alam subtropis. Tentunya alam yang berbeda akan menyebabkan pula cara mengatasinya. Lingkup pembahasan materi ini dibatasi untuk pengenalan tumbuhan dan hewan di gunung, hutan, sungai serta disesuaikan dengan kondisi alam Indonesia. Pelajaran ini harus dilengkapi dengan membaca kepustakaan dan menambah pengalaman perjalanan, karena untuk jenis binatang atau tumbuh-tumbuhan yang sama mungkin terdapat perbedaan nama (nama daerah).

BOTANI PRAKTIS
Permasalahan dalam survival mengenai masalah Botani Praktis yaitu, survivor harus mengenal karakteristik alamnya, karena daerah di Indonesia ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa zona geografi tumbuhan. Kita bersurvival di Indonesia barat tentu berbeda ketika kita bersurvival di Indonesia timur. Ada daerah yang memiliki rawa luas, di mana tumbuhan yang ada sangat khas. Secara garis besar, tumbuh-tumbuhan dalam materi ini dibedakan pada dua hal :

1. Tumbuhan yang berguna (dapat dimakan, mengandung air, dapat dipakai sebagai obat, dan lain-lain). Bagian tumbuhan yang dapat dimakan dan memberikan energi yang cukup adalah umbi, baik umbi batang maupun umbi bakar. Setelah itu baru buah, biji, dan daun. Ciri umum tumbuhan yang dapat dimakan : 
  • Bagian tumbuhan yang masih muda (pucuk/tunas).
  • Tumbuhan yang tidak mengandung getah.
  • Tumbuhan yang tidak berbulu.
  • Tumbuhan yang tidak berbau kurang sedap.
  • Tumbuhan yang dimakan oleh hewan mamalia. 
Langkah-langkah yang perlu bila akan memakan tumbuhan :
  1. Makan tumbuh-tumbuhan yang sudah dikenal.
  2. Makan jangan satu jenis tumbuhan saja.
  3. Sebaiknya jangan memakan tumbuhan yang buahnya berwarna ungu, karena dikhawatirkan mengndung racun alkaloid.
  4. Cara memakan buah-buahan yang belum kita kenal adalh dengan mengoleskan sedikit ke bibir dan ditunggu reaksinya. Bila tidak ada rasa aneh (panas, pahit) berarti cukup aman.
  5. Yang paling baik adalah dengan terlebih dahulu memasak bagian tumbuhan yang akan dimakan. 
Langkah-langkah menguji makanan yang belum dikenal :
  1. Periksa secara teliti. Pastikan bahwa tanaman tersebut tidak kotor/berlumpur atau dimakan cacing. Beberapa tanaman ketika tua berubah menjadi racun karena adanya zat kimia
  2. Cium, Remas/hancurkan sebagian kecil dari tanaman tersebut. Jika baunya seperti almond yang pahit atau buah persik (bau busuk), maka buang
  3. Iritasi kulit. gosokkan sedikit atau tekan beberapa air/getah tanaman tersebut ke bagian tubuh yang  lembut atau lunak (seperti lengan antara ketiak dan siku). Jika ada iritasi, buang.
  4. Bibir, mulut, lidah. Jika tidak ada reaksi pada langkah 3, lanjutkan dengan langkah berikut :
  5. letakkan sedikit sample tanaman pada bibir
    letakkan sedikit sample tanaman pada sudut mulut
    letakkan sedikit sample tanaman pada bagian atas lidah
    letakkan sedikit sample tanaman pada bagian bawah lidah
    kunyah sedikit sample.
  6. Tunggu hingga 5 menit untuk setiap langkah no.5 diatas. Jika ada iritasi/ketidaknyamanan, maka buang!
Makan dalam jumlah yang sedikit, dan tunggu sekitar 5 jam. Selama masa 5 jam ini, jangan makan atau minum makanan yang lain.
Catatan : beberapa ciri tumbuhan yang dapat dimakan diatas, semuanya belum pasti benar.

Tumbuhan Obat Dapat dikelompokkan menjadi dua :

a. Tumbuhan obat dalam 
  • Brantawali (Anamitra cocculus), tumbuhannya merayap. Terdapat di hutan, di kampung. Batangnya direbus, rasanya pahit. Kegunaannya untuk anti demam, anti malaria, pembersih luka, penambah nafsu makan.
  • Keji Beling/ngokilo (Strobilatetes). Tumbuhan semak dan di hutan. Ambil daunnya, dimasak untuk obat pinggang dan infeksi/keracunan pada pencernaan.
  • Sembung/sembung manis (Blumen Balsmifira). Jenis rumput-rumputan, terdapat di padang rumput yang banyak anginnya. Daunnya di seduh dengan air panas, dapat digunakan untuk sakit panas, sakit perut. 
b. Tumbuhan obat luar
  • Getah pohon Kamboja, untuk menghilangkan bengkak. Gosok getah pada bagian tubuh, biarkan 24 jam. Bersihkan dengan minyak kelapa kemudian dengan air hangat. Juga untuk terkilir.
  • Air rebusan brantawali untuk mencuci luka, juga air batang pohon randu (kapuk hutan).
  • Daun Sambiloto ditumbuk halus, atau daun Ploso yang juga ditumbuk, untuk anti sengatan kalajengking. 
2. Tumbuhan yang berbahaya (beracun)
  1. Getah pohon paku putih, dapat menyaebabkan kebutaan.
  2. Getah pohon Renggas, ingas/semplop, sangat berbahaya karena merusak jaringan.
  3. Getah Jambu Monyet, menyebabkan gatal-gatal.
  4. Buah aren mentah, juga menyebabkan gatal-gatal.
  5. Kecubung, beracun bila dimakan.
  6. Rarawean, dapat menyebabkan gatal-gatal dan pedih.
  7. Daun fulus, juga dapat menyebabkan gatal dan panas.
  8. Poison Ivy, menyebabkan gatal-gatal 
3. Tumbuhan Berguna lainnya
  • Tumbuhan penyimpanan air, contoh : bamboo, rotan, dsb.
  • Tumbuhan pembuat atap/perlindungan, contoh : daun nipah, aren, sagu, dsb.
  • Pengusir ular dan serangga, contoh : lemo.
  • Indikator air bersih, contoh : tespong, selada air. 
Contoh tumbuhan yang dapat di makan :
Umbi di dalam tanah  : talas, kentang, bengkoang, paku tanah
Bagian batangnya       : umbut muda pisang, sagu, begonia 
Buah                          : kelapa, arbei, konyal, buah rotan
Biji                             : padi, jagung, rumput teki
Bunga                        : turi, pisang
Daun                          : rasamala, melinjo, babadotan, pohpohan, pakis

Bila kita menemukan jamur di hutan, sebaiknya jangan di makan karena sulit membedakan yang dapat dimakan atau tidak. Selain itu kadar kalori jamur sangat rendah karena tubuh jamur banyak mengandung air. Pedoman umum yang dapat digunakan untuk menentukan jamur yang dapat dimakan:
  1. tidak berwarna mencolok
  2. tidak bercahaya
  3. tidak memiliki gelang pada tangkainya
  4. tidak berbau
  5. tidak memberi efek hitam jika disentuh benda-benda perak
Pedoman seperti itu sebenarnya kadang tidak selalu benar. Banyak jamur yang memiliki ciri-ciri diatas justru mengandung racun.

Contoh : Amanita Phalloder, Amanita Verna, Amanita Virosayang berwarna putih bersih memiliki racun mematikan. Ketiga jamur tersebut jika dimakan setelah 30 menit kemudian akan mengakibatkan perut sakit sekali. Bila tidak segera diatasi, 6-8 jam kemudian akan menemui ajal.

“Jangan makan dalam jumlah yang banyak satu jenis tanaman pada satu waktu, dan jika ingin memakannya, maka mulailah dari bagian yang segar
dan ambil beberapa lagi untuk dimasak, kemudian makan sedikit demi sedikit.”

“Jangan berasumsi bahwa karena burung, hewan mamlia atau serangga memakan beberapa jenis tanaman, hal ini berarti tanaman tersebut dapat dimakan oleh manusia.  Kera adalah salah satu contoh , tetapi tidak menjamin bahwa tanaman yang dimakan oleh kera dapat dimakan oleh manusia.”

Mountaineering


A. Definisi pendakian gunung
Pendakian gunung adalah suatu olah raga keras, penuh petualangan, dan membutuhkan keterampilan, kecerdasan, dan kekuatan serta mempunyai daya juang tinggi. Dalam arti luas, pendakian gunung berarti suatu perjalanan. Definisi lainnya adalah sebuah kegiatan alam bebas yang menggunakan gunung sebagai sarana kegiatannya.

B. Teknik pendakian gunung
Dalam pendakian gunung ada dua sistem pendakian yang dikenal banyak pecinta alam, yaitu :

a. Himalaya System
Himalaya system adalah sistem pendakian yang digunakan untuk perjalanan pendakian panjang sehingga memerlukan waktu berminggu-minggu. Sistem ini berkembang dalam pendakian ke puncak-puncak di Pegunungan Himalaya.

b. Alpine System
Alpine system adalah sistem pendakian yang berkembang di Pegunungan Alpen. Tujuannya agar semua pendaki dapat mencapai puncak secara bersama-sama. Sistem ini lebih cepat karena pendaki tidak perlu kembali lagi ke kemah utama (base camp).

C. Perlengkapan dan Peralatan Pendakian

1. Perlengkapan dasar meliputi :
1. Perlengkapan dasar perjalan/ pergerakkan
Ransel / Carriel
         Dalam hal ini ransel yang dibutuhkan adalah ransel yang sangat kuat, ringan, dan terbuat dari bahan yang tahan air. Ransel yang baik adalah ransel yang nyaman di pakai walaupun banyak beban yang dibawa.
           Ransel terdiri dari dua jenis, yaitu ransel dengan rangka luar dan ransel dengan rangka dalam. Ransel dengan  rangka luar cocok digunakan dalam medan terbuka, seperti daerah rerumputan atau pantai. Sedangkan ransel dengan rangka dalam cocok digunakan dalam medan gunung atau hutan.

Baju dan Celana Panjang
i. Baju gunung
Baju gunung harus terbuat dari bahan yang nyaman dipakai, menyerap keringat, dan mudah kering tapi cukup kuat. Diusahakan baju yang dipakai harus berlengan panjang agar pendaki terlindung dari gigitan hewan dan sengatan matahari.

ii. Celana gunung
Celana Gunung harus terbuat dari bahan katun yang lembut tapi kuat, desain celana memberikan ruang gerak yang leluasa bagi kaki kita, mempunyai saku yang cukup.
Ikat Pinggang
Sebagai pengencang celana
Kaus Kaki
Sebagai pelindung kaki agar tidak terjadi lecet-lecet
Sarung Tangan
Sebagai pelindung telapak agar tidak terjadi goresan.
Topi rimba
Digunakan sebagai pelindung kepala.
Sepatu Track
Sepatu untuk mendaki gunung harus memiliki syarat :

  • Terbuat dari bahan yang kuat dan ketika dipakai tidak merasa sakit.
  • Melindungi kaki sampai mata kaki untuk mencegah terjadinya bahaya atau terkilir.
  • Nyaman dipakai.
  • Bentuk sol bawah dapat mencengkeram ke segala arah agar pemakainya tidak mudah tergelincir.
Senter
Alat untuk penerangan. Gunakan senter yang memiliki kualitas cahaya yang baik, bentuk ringkas, tidak boros.

b. Perlengkapan untuk istirahat
Sleeping Bag
Merupakan alat umum untuk tidur yang menyerupai kepomopong.
Matras
Biasanya digunakan sebagai alas terutama untuk alas tidur didalam tenda.
Kupluk
Sebagai penghangat kepala.
Sweater
Sebagai penghangat badan.
Bivak/ tenda
Digunakan sebagai tempat beristirahat atau berteduh.


c. Perlengkapan Makan dan Minum
Nesting
Berfungsi sebagai wadah memasak.
Kompor Lapangan
Ada beberapa jenis kompor lapangan yang dapat digunakan, seperti kompor paraffin, kompor gas, dan kompor spirtus.
  • Kompor Paraffin lebih ringkas bentuknya, tapi tidak tahan terhadap badai angin yang kencang.
  • Kompor Gas menghasilkan panas yang lebih baik daripada kompor paraffin, tetapi sangat ruska untuk di bawa karena sering terjadi ledakan tabung gas.

Kompor Spirtus tidak terpengaruh oleh angin dan panas, api yang dihasilkan lebih baik daripada kedua kompor tersebut, tetapi bahan bakar yang di perlukan lebih banyak daripada kompor paraffin.
Peralatan Makan
Meliputi sendok, garpu, piring dan gelas. Alat tersebut harus terbuat dari plastik agar tidak beresiko saat dibawa.
Bahan Bakar
Bahan bakar ini disesuaikan dengan alat yang diperlukan untuk memasak. Biasanya meliputi Korek api, Paraffin, Tabung Gas, dan Spirtus.
Drigen
Digunakan untuk menampung air.
Pisau
Ada beberapa jenis pisau yang digunakan dalam pendakian, yaitu golok tebas, pisau pinggang, dan pisau saku multiguna (Victorinox).

d. Perlengkapan mandi.
e. Perlengkapan pribadi (obat pribadi).

      2. Perlengkapan khusus disesuaikan dengan perjalanan, misalnya :
  a. Perlengkapan penelitian (kamera, buku, dll)
  b. Perlengkapan penyusuran sungai (perahu, dayung, pelampung, dll)
  c. Perlengkapan pendakian tebing batu (Karabiner, tali, dll)
  d. Perlengkapan penelusuran gua (helm, headlamp/ senter, harness, dll)

      3. Perlengkapan tambahan :
Perlengkapan ini dapat dibawa atau tergantung evaluasi yang dilakukan (Contoh : semir, kelambu, gaiter, dll)

D. Packing



E. Prosedur Pendakian Gunung
Dalam melakukan pendakian gunung, ada beberapa langkah yang harus diikuti oleh pendaki, diantaranya :
  1. Mengamati lintasan dan memikirkan teknik yang akan dipakai.
  2. Menyelipkan perlengkapan yang diperlukan.
  3. Untuk leader mengatur perlengkapan sedemikian rupa agar mudah diambil dan tidak mengganggu gerakan, untuk belayer memasang anchor merapikan alat-alat dan mengamankan leader apabila jatuh.
  4. Bila belayer dan leader siap melakukan pendakian, segera memberikan aba-aba pendakian.
  5. Bila leader sudah sampai satu pitch dia harus memasang anchor.
  6. Leader sudah memasang anchor selanjutnya berfungsi sebagai belayer yaitu mengamankan pendakian berikutnya.
F. Faktor alam yang menyebabkan pendaki mengalami kecelakaaan adalah :

  • Suhu yang tiba-tiba turun drastis yang disebabkan oleh perbedaan suhu disekitar gunung yang menyebabkan turunnya daya tahan pendaki.
  • Badai gunung.
  • Binatang buas.
  • Kebakaran hutan.
  • Longsornya tebing gunung.
  • Gas beracun.
Untuk meminimalikan terjadinya kecelakaan pada saat mendak gunung, pendaki harus memperhatikan hal-hal berikut :
  1. Jumlah orang yang akan mendaki minimal tiga orang.
  2. Membawa peralatan lengkap. Terutama peralatan pribadi.
  3. Menjaga kekompakkan tim sebagai hal vital dalam perjalanan.
  4. Mempunyai leader yang berpengalaman. Baik mental maupun pengetahuan.
  5. Membawa logistik dan air yang cukup.
  6. Menjaga kondisi agar tetap fit.
G. Cara Mendaki Gunung yang Baik (Hiking Safety)
    Keselamatan pendaki gunung sangat diutamakan. Tidak sedikit yang mengalami kecelakaan bahkan kehilangan nyawa. Hal itu disebabkan oleh faktor alam atau faktor kesalahan manusia. Beberapa faktor kesalahan manusia adalah :
  • Minimnya pengetahuan medan yang akan dilalui.
  • Membuka jalur baru tanpa mengetahui navigasi dan cara bertahan hidup yang memadai.
  • Tersesat dihutan karena kekurangan makanan dan air.
  • Terjadi perpecahan dan perbedaan pendapat dalam kelompok pendaki.
  • Kecerobohan leader dalam menentukan jalur yang akan di lalui.
H. Pionering (Perencanaan Perjalanan)

    Melakukan kegiatan dialam bebas adalah kegiatan yang termasuk dalam kegiatan yang beresiko tinggi (high risk activity), sehingga untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan maka sebuah kegiatan alam bebas harus dipersiapkan secara matang oleh para pelakunya. Oleh karena itu perlu sebuah menajemen kegiatan yang tertata agar kegiatan tersebut bisa terlaksana dengan lancar. Secara garis besar sebuah kegiatan terbagi menjadi tiga fase :
  1. Pra kegiatan
  2. Pelaksaan kegiatan
  3. Pasca kegiatan
Adapun rumusan yang umum digunakan, yaitu 5W+1H. yang kepanjangannya adalah What, Where, Who, Why, When dan How. Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut :
  1. What (apa), suatu kegiatan pasti memiliki nama.
  2. Where (dimana), kita harus mengetahui dimana tempat kegiatan yang akan kita gunakan.
  3. Who (siapa), apakah kita akan melakukan kegiatan alam tersebut bersama kelompok atau sendiri.
  4. Why (mengapa), pertanyaan yang cukup panjang jawabannya dan bisa bermacam-macam.
  5. When (kapan), waktu pelaksaan kegiatan tersebut dan berapa lama?
Untuk How (bagaiamana) merupakan suatu pembahasan lebih spesifik dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :
  • Bagaimana kondisi lokasi.
  • Bagaimana transportasi menuju lokasi.
  • Bagaimana cuaca disana.
  • Bagaimana perizinannya.
  • Bagaimana mendapatkan air.
  • Bagaimana pengaturan pembagian tugas panitia.
  • Bagaimana acara akan berlangsung.
  • Bagaimana materi yang disampaikan.
  • Dan masih banyak “bagaimana” lagi.
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun rencana kegiatan yang didalamnya mencangkup rincian.

    a. Pra Kegiatan
           Pada persiapan ini tim yang bertugas dibagian perizinan dan administrasi bertugas mempersiapkan dan mengurus perizinan dan administrasi yang dibutuhkan untuk kegiatan perjalanan.

1. Pendanaan
Tim yang bertugas dibidang ini ditugaskan menyusun anggaran yang dibuttuhkan dari pra hingga pasca kegiatan. Mengoreksi tentang kebutuhan dana yang telah disusun dan mengumpulkan dana dan mencari sumber dana yang dibutuhkan.

2. Pembuatan agenda kerja
Agar kegiatan tersusun rapid an memenuhi target yang telah ditentukan maka, buatlah Time Schedule dari pra-kegiatan hingga pasca-kegiatan.

3. Pendalaman materi
Disesuaikan dengan maksud dan tujuan kegiatan.


4. Persiapan fisik
Latihan fisik perlu adanya, untuk mempersiapkan kondisi fisik sebelum kegiatan dilakukan, terutama bila kegiatan tersebut dilakukan dialam bebas. Proses latihan yang dilakukan secara sistematis dan berulang .

5. Persiapan perlengkapan
Mempersiapkan perlengkapan perjalanan, antara lain : sesuai dengan medan lokasi kegiatan, adapun prinsip perlengkapan yang akan di bawa adalah “sedikit mungkin namun selengkap mungkin dengan kegunaan sebanyak mungkin”. Adapun spesifikasi perlengkapan seperti :
  • Perlengkapan pribadi
  • Perlengkapan kelompok
Setelah menentukan kebutuhan perlengkapan, tak kalah penting tentang bagaimana kita akan melakukan packing perlengkapan. Dan dengan apa kita akan mempacking perlengkapan tersebut. Terutama kegiatan yang mengharuskan berjalan kaki dengan medan yang berat.

6. Persiapan perbekalan perjalanan
Yang perlu diperhatikan :
  • Sesuaikan perbekalan dengan lamanya perjalanan.
  • Cukup memenuhi kebutuhan kalori danmempunyai komposisi gizi yang memadai, serta tidak asing bagi lidah dan penciuman.
  • Sebaiknya siap saji, irit air, dan bahn bakar.
Setelah perencanaan perbekalan dengan informasi lengkap,perkiraan kondisi medan dan aktivitas yang akan dilakukan, maka lakukan hal-hal berikut :
  1. Perhitungan kalori yang diperlukan.
  2. Susunan daftar menu makanan yang memenuhi rencana diatas, kemudian kelompokan menurut komposisi (karbohidrat, protein, lemak) kemudian hitung masing-masing kalori totalnya.
  3. Apabila ada kekurangan, tambahkan suplemen berupa tablet vitamin dan mineral.

7. Survey
Setelah data tentang lokasi kegiatan telah terkumpul, perlu diadakan survey kelayakan lokasi kegiatan agar kendala bisa teratasi dan diantisipasi sebelumnya.

8. Try out
Untuk menilai kesiapan tim. Baik fisik, materi dan kemampuan. Hasil try out ini menjadi acuan kelayakan tim untuk melanjutkan kegiatan.

9. Publikasi kegiatan
Manfaat publikasi kegiatan :
  • Menunjang pencarian dana dalam kegiatan. Biasanya berasal dari dana organisasi, donator, ataupun sponsor.
  • Sebagai citra organisasi
  • Publikasi kegiatan yang baik akan berimbas pada peningkatan citra organisasi yang melakukan kegiatan tersebut.
  • Sebagai informasi bagi masyarakat
  • Untuk dokumentasi.
    b. Pelaksanaan kegiatan

1. Pembagian tugas dan kerjasama tim
Pembagian tugas disesuaikan dengankebutuhan kegiatan lapangan, ketua pelaksana serta panitia sebagai penanggung jawab kegiatan. Sedangkan operasional lapangan mengkoordinir tim lapangan (peserta) dari persiapan pra kegiatan sampai pada saat kegiatan. Adapun pembagian tudas tim lapangan yang sesuai dengan kebutuhannya, seperti : ketua tim (leader), notulen, navigator, logistic, kesehatan, dokumentasi, komunikasi, dan pendataan. 

2. Manajemen perlengkapan dan pembekalan
Ini adalah bagian yang paling penting dalam kegitan. Karna itu pelu pengaturan dalam kegunaannya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengaturan perlengkapan dan perbekalan. Antara lain :
  • Checklist semua perlengkapan dan perbekalan.
  • Rencanakan penggunaan peralatan perharinya
  • Jaga dan rawat peralatan tersebut
  • Sedikit mungkin namun selengkap mungkin dengan menfaat sebanyak mungkin.
3. System komando, komunikasi, dan rescue
Untuk kelancaran kegiatan lapangan maka perlu sistem komando dan komunikasi yang bagus sehingga segala sesuatu seperti informasi mendadak, pengiriman data dan berita kecelakaan dapat ditangugalangi dengan cepat.

    c. Pasca kegiatan

1. Laporan kegiatan
Bentuk dari hasil pendokumentasian kegiatan dari pra kegiatan hingga pasca kegiatan. Sehingga bisa menjadi acuan dan tolak ukur dari kegiatan selanjutnya.

2. Evaluasi
Bermaksud agar segala kekurangan dan kendala selama kegiatan bisa menjadi pelajaran untuk kegiatan selanjutnya, dari pengevaluasian laporan kegiatan tersebut.

“Seorang organiser yang baik, seorang yang dapat membuat, menguasai, dan mewujudkan skenario kegiatan yang dibuatnya”

Minggu, 24 Maret 2013

Struktur Organisasi Esacapala 2012-2013














Esacapala berdiri pada tanggal 23 Oktober 2000. Dideklarasikan di puncak gunung Gede. Pendirinya adalah Hamdi Fahrizal (Bezo). Awalnya bernama Sakapala lalu berubah menjadi Skapala, terakhir baru menjadi Esacapala. Esa: Satu, Ca: Cikarang, Pa: Pecinta, dan La: Alam. Yang berarti pecinta alam SMAN 1 Cikarang. Pada bulan September 2001 Esacapala secara resmi berdiri dibawah naungan OSIS SMAN 1 Cikarang Utara.



Esacapala diketuai oleh Siti Mega Rosalia (kepengurusan 2013-2014) yang dibimbing oleh Usep Suherlan Js, S. Pd. I  yang beranggotakan 21 orang (3 org R.13 & 18 org R.14) sampai saat ini. (Jum'at , 18/07/14)



Jadwal Organisasi Esacapala yaitu :
Senin   (15.15 - 17.00)
Kamis  (15.30 - 17.00)
Sabtu   (07.00 - selesai)




Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More